Wednesday, July 17, 2024

STEVANUS MARIA LETSOIN Meninggal Dunia

STEVANUS MARIA LETSOIN yang dikenal dengan STEVEN LETSOIN dan pimpinan BLACK SWEET, lahir di ‘kampung TERI’, Pulau ‘Kimaam’ (Merauke) tahun 1954 dimana orang tuanya bertugas sebagai guru disana. Di awal tahun 70an, merantau ke Fak-Fak sampai menyelesaikan pendidikan SPG disana. Di Fak-Fak pula beliau mulai bermain musik sebagai pemain Bass. Sebenarnya beliau sudah mendapatkan tempat tugas sebagai guru di Agimuga tetapi tahun 1977 berangkat ke Merauke dan tertahan disana. Di Merauke mulai bermain di Band The Mars sebagai gitaris dan juga vocalis. Album perdana BB yang baru saja keluar saat itu, beliau yang menyanyikannya di band. Hanya setahun di Merauke, berangkat ke Jayapura dan kuliah di UNCEN lalu bergabung di band UNCEN bersama Eddy Pattipeiluhu, Robby Manengkey dan Yan Ulukyanan, juga di Band BPD Irian Jaya. Setelah Harry Letsoin & John Keff datang dan bergabung, mereka bermain di Band KODAM XVII Cenderawasih sampai berangkat di Jakarta dan dikenal dengan nama Black Sweet. Lagu-lagu ciptaannya sangat melekat dengan musik Black Sweet dan menjadi hits, seperti: Rintihan Sebuah Hati, Mutiara Yang Ku Sayang, Sahabatku Sayangku (1&2), Lembaran Kisah Lalu, Akhir Sebuah Kisah, Memory 3 February, Badai Di Awal Kebahagiaan, Hati yang Sedih, Kesangsian Sebuah Hati, Mengapa Harus Terjadi, Everlasting Love, Just You And Me dll. (Rest In Peace, Uncle Steven) 🙏❤️️ (Dommy Gabriel Fofied)...

#SaveLegendMusicPapua
Sorotan

Saturday, July 13, 2024

Nasehat Mike Tyson kepada Anaknya: Jangan Menjadi Petinju

Mike Tyson

“Putra tertua saya yang berusia 16 tahun berkata bahwa dia ingin menjadi petinju profesional. Tapi sampai di situ, saya katakan: kamu konyol! Kamu bersekolah di sekolah swasta, kamu tidak bisa menjadi petinju! Kamu sudah jalan-jalan ke Eropa, kamu sudah berkeliling dunia. Kau tidak akan bisa menjadi petarung dengan semua itu. Kamu mau bertarung dengan orang seperti aku? Berkelahi dengan binatang buas? 

Saya tidak ingin anak-anak saya seperti itu, itu menurunkan martabat. Jika anda ingin menjadi petinju, anda melakukannya saat anda tidak punya apa-apa. Butuh banyak pengorbanan, rasa sakit dan penderitaan. Saya menerima pukulan-pukulan agar anak-anak saya tidak perlu seperti saya. Ketika saya melihat anak-anak saya, saya melihat anak-anak kelas menengah, yang pergi ke sekolah, bebas melakukan apa yang mereka mau. Menjadi petinju berarti harus menjadi yang terbaik, mendominasi semua orang.

Saya tidak mau memberikan tekanan seperti itu pada mereka."

Friday, July 12, 2024

People called Mary McLeod Bethune "The First Lady of The Struggle."

People called Mary McLeod Bethune "The First Lady of The Struggle." The struggle being improving life for African Americans.

Born in 1875 in a small cabin close to Mayesville, South Carolina, Mary was the fifteenth of seventeen children of parents who had been enslaved.

From a young age, Mary was inspired to learn. With encouragement from her parents, she'd walk five miles a day to attend the mission school nearby. The experience set a foundation for her life. "The whole world opened to me when I learned to read," Mary would say.

For Mary, her love for learning evolved into a profession of teaching. And after some years of being a teacher, Mary opened the Daytona Literary and Industrial Training Institute for Negro Girls in 1904. The initial class of six students learned from a curriculum that began at 5:30am with Bible study and continued throughout the day with a focus on self-sufficiency skills development until the school day ended at 9pm. And with sparse financial resources, as Mary started the Institute with only $1.50, amongst a number of cost-saving initiatives, students made pencils from burned wood and ink from elderberry juice. But within a couple of years, the number of students attending grew to two hundred and fifty.

Mary had a motto for life: "not for myself, but for others." Following this creed, she dedicated herself to many initiatives throughout life. Amongst educating young students, she opened a hospital and training programs for nurses, took an active role in politics, where she held a number of positions, including Director of Negro Affairs at the National Youth Administration, and helped integrate organizations such as the Red Cross.

Mary passed away in 1955. In her Last Will and Testament, she wrote nine maxims - "I leave you to love. I leave you to hope. I leave you the challenge of developing confidence in one another. I leave you a thirst for education. I leave you a respect for the use of power. I leave your faith.